Alex Cheung Menelusuri Jejak Huo Dongge,

Menghubungkan Warisan Jingwu Indonesia dan Tiongkok

Perjalanan keluarga Huo Yuanjia dari Indonesia ke tanah leluhur di Tianjin kembali membuka satu bab penting sejarah yang jarang dikenal publik : bagaimana semangat Jingwu menyeberangi lautan, tumbuh di Indonesia, dan diwariskan lintas generasi. Kisah itulah yang juga menjadi napas buku karya Alex Cheung, Echoes of Spirit: Huo Dong Ge (1895–1956) — The Flame of Jing Wu in Indonesia.

Lebih dari satu abad setelah wafatnya Huo Yuanjia, nama maestro bela diri Tiongkok itu ternyata masih menghubungkan keluarga, sejarah, dan masyarakat di dua negara: Indonesia dan Tiongkok.

Pada 13 September 2026, keluarga besar Huo Yuanjia menggelar perjalanan “mencari akar” di Tianjin, Tiongkok, bertepatan dengan peringatan 116 tahun wafatnya Huo Yuanjia.

Salah satu figur sentral dalam perjalanan itu adalah Huo Yuehua, cucu perempuan Huo Yuanjia sekaligus putri Huo Dongge. Ia datang dari Indonesia dan kembali ke tanah leluhurnya di Tianjin bersama keturunan keluarga Huo dan para tamu.

Rombongan berkumpul di Taman Wulin Tiongkok Jingwumen, Kecamatan Jingwu, Distrik Xiqing, Tianjin, dalam sebuah upacara penghormatan kepada leluhur yang digambarkan berlangsung khidmat sekaligus hangat.

Peristiwa tersebut bukan semata reuni keluarga. Di balik perjalanan itu tersimpan jejak sejarah tentang bagaimana Jingwu, yakni gerakan atau perkumpulan bela diri yang membawa semangat pengembangan fisik, karakter, disiplin, dan nasionalisme, pernah menyeberang dari Tiongkok menuju Asia Tenggara—termasuk Indonesia.

Dari Tianjin hingga Indonesia

Nama Huo Yuanjia telah lama dikenal dalam sejarah bela diri Tiongkok. Namun, cerita mengenai Huo Dongge, putranya, dan keterkaitannya dengan Indonesia tidak selalu mendapatkan perhatian yang sama.

Justru di titik itulah sejarah Indonesia memperoleh tempat penting.

Dalam pernyataannya ketika mengunjungi makam leluhur, Huo Yuehua mengenang ayahnya sebagai sosok yang membawa semangat Jingwu menuju Nanyang, istilah historis yang merujuk pada kawasan Asia Tenggara.

Menurut Huo Yuehua, Huo Dongge menyeberang ke Nanyang, mendirikan Persatuan Jingwu di Indonesia, dan menyebarkan semangat Jingwu di negeri perantauan.

Bagi Huo Yuehua, warisan terpenting sang kakek bukan hanya teknik bertarung.

Yang jauh lebih penting adalah jiwa yang berada di baliknya : semangat memperbaiki diri, keberanian, kecintaan terhadap masyarakat, dan penggunaan bela diri sebagai sarana membangun hubungan antarmanusia.

Ia berharap kungfu dan Jingwu dapat menjadi jembatan persahabatan antarbangsa.

Pandangan itu menjadikan sejarah Jingwu di Indonesia lebih luas daripada sekadar perjalanan sebuah aliran bela diri.

Ia merupakan cerita tentang migrasi gagasan, pembentukan komunitas, perjumpaan budaya, dan hubungan manusia lintas negara.

Alex Cheung dan Upaya Menghidupkan Kembali Jejak Huo Dongge

Jejak tersebut kemudian menjadi perhatian Alex Cheung, penulis buku Echoes of Spirit: Huo Dong Ge (1895–1956) — The Flame of Jing Wu in Indonesia.

Dari sampul buku, Cheung menempatkan Huo Dongge sebagai figur utama yang menghubungkan keluarga Huo Yuanjia dengan perjalanan dan perkembangan Jingwu di Indonesia.

Pilihan judul Echoes of Spirit—secara bebas dapat diterjemahkan sebagai “gema sebuah semangat”—juga menggambarkan pendekatan yang tidak berhenti pada biografi seseorang.

Ia mencoba merekam bagaimana sebuah nilai dapat hidup lebih lama daripada generasi yang pertama kali membawanya.

Dalam keterangan tambahan yang disampaikan kepada redaksi, Alex Cheung kemudian terbang ke Beijing, Tiongkok, bersama keturunan Huo Yuanjia yang berada di Indonesia.

Kehadiran mereka mendapatkan sambutan kekeluargaan yang sangat positif dari keluarga dan lingkungan yang memiliki hubungan dengan warisan Huo Yuanjia.

Buku Cheung tentang Huo Dongge dan sejarah Jingwu di Indonesia pun disebut memperoleh sambutan antusias.

Momen tersebut menjadi penting karena untuk pertama kalinya sebuah perjalanan sejarah yang berkembang jauh dari tanah asalnya—di Indonesia—seolah “dibawa pulang” kembali kepada keluarga yang menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

Bukan hanya seorang penulis yang datang membawa buku.

Yang hadir adalah bagian dari cerita keluarga Huo yang selama beberapa generasi tumbuh ribuan kilometer dari Tianjin.

“Tidak Peduli Seberapa Jauh Pergi, Ikatan Darah Tetap Terhubung”

Dimensi kekeluargaan menjadi salah satu bagian paling kuat dalam peringatan tersebut.

Huo Nairong, cicit keempat Huo Yuanjia, mengatakan bahwa jarak geografis tidak memutus hubungan keluarga.

Menurut dia, akar keluarga Huo tetap berada di tanah leluhur dan harus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ia juga menekankan pentingnya generasi muda memahami nilai patriotisme, kemandirian, serta keberanian memikul tanggung jawab.

Di saat bersamaan, semangat bela diri tidak seharusnya menjadi sesuatu yang tertutup. Bela diri justru dapat digunakan untuk “bertemu sahabat”, bertukar pengalaman, dan saling belajar dengan masyarakat di negara lain.

Di sinilah perjalanan Indonesia-Tiongkok memperoleh makna yang lebih luas.

Hubungan itu tidak semata dibangun melalui pertalian darah, tetapi juga melalui nilai yang terus dipraktikkan.

Ziarah yang Menjadi Pelajaran Sejarah

Upacara penghormatan di Tianjin dimulai sekitar pukul 09.30.

Keturunan keluarga Huo, perwakilan Jingwu, serta para tamu berkumpul di kompleks makam. Mereka memberikan penghormatan, mengheningkan cipta selama sekitar 30 detik, membungkuk tiga kali, serta meletakkan bunga di makam.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Museum Peringatan Huo Yuanjia dan rumah kelahirannya.

Di tempat itu, rombongan melihat kembali arsip, foto keluarga, serta berbagai peninggalan yang merekam sejarah keluarga Huo.

Huo Yuehua disebut cukup lama berdiri di depan arsip keluarganya. Ia kemudian berpesan agar generasi berikutnya tidak melupakan akar keluarga dan tetap meneruskan nilai yang diwariskan para pendahulu.

Adegan itu memberikan gambaran sederhana tentang arti sebuah arsip sejarah.

Dokumen tua, foto yang menguning, dan benda peninggalan mungkin tidak dapat berbicara.

Namun, ketika generasi baru kembali membacanya, benda-benda itu memperoleh suara kembali.

Ketika Sejarah Indonesia Menjadi Bagian dari Sejarah Keluarga Huo

Kisah ini sekaligus mengingatkan bahwa sejarah bela diri Tionghoa di Indonesia tidak berdiri sendiri.

Ia merupakan bagian dari sejarah migrasi dan interaksi sosial yang panjang antara masyarakat Tiongkok dengan Asia Tenggara.

Huo Dongge menjadi salah satu mata rantainya.

Ketika Huo Yuehua kembali dari Indonesia menuju Tianjin lebih dari seabad setelah masa Huo Yuanjia, perjalanan itu seperti membuat sebuah lingkaran sejarah menjadi lengkap.

Generasi pertama membawa gagasan keluar dari Tiongkok.

Generasi berikutnya tumbuh dan mempertahankannya di Indonesia.

Lebih dari seratus tahun kemudian, keturunan keluarga tersebut kembali membawa cerita tentang apa yang terjadi pada warisan itu di seberang lautan.

Materi Tianjin Xiqing bahkan menggambarkan perjalanan Indonesia-Tianjin tersebut bukan sekadar ziarah keluarga, melainkan jembatan yang menghubungkan sejarah dengan masa depan.

Buku sebagai Jembatan Generasi

Dalam konteks itulah karya Alex Cheung memperoleh arti tersendiri.

Buku Echoes of Spirit dapat dilihat bukan hanya sebagai catatan mengenai seorang tokoh bernama Huo Dongge.

Ia juga menjadi medium untuk menyatukan potongan sejarah yang tersebar di dua negara.

Ada Tianjin sebagai tanah asal keluarga Huo.

Ada Indonesia sebagai salah satu tempat warisan Huo Dongge berkembang.

Ada keturunan keluarga yang mempertahankan ingatan tersebut.

Dan ada generasi masa kini yang mencoba mendokumentasikannya sebelum jejak sejarah itu menghilang.

Sambutan kekeluargaan yang diterima Cheung bersama keturunan Huo Yuanjia dari Indonesia di Tiongkok karena itu mempunyai makna lebih dari sekadar apresiasi terhadap sebuah penerbitan.

Ia menunjukkan bahwa penulisan sejarah dapat menjadi jalan untuk mempertemukan kembali keluarga, komunitas, dan ingatan yang selama puluhan tahun terpisahkan oleh jarak geografis.

Pada akhirnya, sejarah Huo Yuanjia dan Huo Dongge tidak hanya berbicara mengenai siapa yang paling kuat di arena bela diri.

Pesan yang justru berulang dalam kesaksian keluarga adalah tentang karakter.

Tentang keberanian memperbaiki diri.

Tentang tanggung jawab.

Tentang tidak melupakan akar.

Dan tentang bela diri yang seharusnya mendekatkan manusia, bukan menjauhkannya.

Sebagaimana pesan Huo Yuehua kepada generasi berikutnya :

  • latihan bela diri bermula dari hati, sementara

  • belajar bela diri harus dimulai dari budi pekerti.

Sumber literasi :

Artikel terjemahan Tianjin Xiqing/Baijiahao Baidu, “Jiwa Bela Diri Seabad, Satu Aliran Hati Merah: Catatan Keturunan Huo Yuanjia Pulang Kampung Mencari Akar”, tentang peringatan 116 tahun wafatnya Huo Yuanjia di Tianjin pada 13 September 2026. Materi tersebut menjelaskan perjalanan Huo Yuehua dari Indonesia, hubungan Huo Dongge dengan penyebaran Jingwu di Indonesia, serta pandangan keluarga Huo mengenai pewarisan semangat Jingwu. Foto sampul buku yang dilampirkan memperlihatkan karya Alex Cheung berjudul Echoes of Spirit: Huo Dong Ge (1895–1956) — The Flame of Jing Wu in Indonesia.

K o n t a k

E m a i l :

support@onoono.asia