Komunitas Bukan Barisan Seragam

Mengapa Empati, Komunikasi, dan Adaptasi akan Menentukan Kekuatan Gerakan Warga

Kebersamaan tidak berarti semua orang harus melakukan hal yang sama, pada waktu yang sama, dengan cara yang sama. Justru salah satu ukuran kedewasaan sebuah komunitas adalah kemampuannya menerima perbedaan tanpa kehilangan tujuan bersama.

Dalam kehidupan komunitas, konflik sering kali tidak bermula dari perbedaan tujuan. Ia justru dapat muncul di antara orang-orang yang memperjuangkan tujuan yang sama, tetapi memiliki kemampuan, keberanian, waktu, kepentingan, pengalaman, dan cara bertindak yang berbeda.

Seseorang mungkin siap berdiri di garis depan. Orang lain memilih membantu dari belakang. Ada yang berani menandatangani surat keberatan atau somasi, sementara yang lain masih mempertimbangkan konsekuensinya. Ada yang aktif berbicara dalam grup, sementara sebagian lainnya lebih banyak mengamati.

Apakah mereka yang tidak berada di depan berarti tidak peduli ? Belum tentu.

Di sinilah psikologi dan ilmu sosial memberikan pelajaran penting : solidaritas tidak identik dengan keseragaman perilaku.

Bahan diskusi komunitas yang menjadi dasar tulisan ini sebenarnya telah menangkap persoalan tersebut dengan cukup jelas. Setiap anggota memiliki situasi, kondisi, keterbatasan, dan keunikan masing-masing. Karena itu, tidak semua orang dapat berkontribusi dengan bentuk yang sama. Dokumen tersebut juga menempatkan komunikasi terbuka, empati, dan saling mendukung sebagai unsur penting untuk mencegah salah paham dan mempertahankan kekompakan.

Perbedaan Bukan Ancaman bagi Solidaritas

Dalam psikologi komunitas dikenal konsep sense of community, yaitu perasaan bahwa seseorang menjadi bagian dari suatu komunitas, memiliki hubungan dengan anggota lain, dapat saling mempengaruhi, memperoleh pemenuhan kebutuhan tertentu, dan mempunyai ikatan emosional bersama.

David McMillan dan David Chavis dalam teori klasik Sense of Community menjelaskan bahwa kehidupan komunitas antara lain dibangun melalui keanggotaan, pengaruh timbal balik, pemenuhan kebutuhan, dan hubungan emosional bersama.

Artinya, kekuatan komunitas tidak semata-mata dapat dihitung dari berapa orang yang hadir dalam sebuah aksi.

Orang yang tidak menghadiri pertemuan belum tentu kehilangan kepedulian. Orang yang tidak bersedia menandatangani suatu dokumen belum tentu menolak perjuangan. Bahkan seseorang yang memilih diam belum tentu berada di pihak yang berseberangan.

Tidak semua anggota dapat hadir atau mendukung secara langsung dan bahwa bentuk dukungan lain tetap perlu dihargai. Memahami perbedaan tersebut dipandang penting untuk mencegah konflik internal dan memperkuat solidaritas.

Kesalahan yang sering terjadi dalam kelompok adalah mengubah perbedaan tingkat partisipasi menjadi penilaian terhadap loyalitas.

Dari sinilah muncul kalimat-kalimat seperti : “ Kalau memang bersama kita, mengapa tidak ikut ?” atau “ Kalau memang mendukung, mengapa tidak tanda tangan ?”

Secara psikologis, cara berpikir seperti itu berbahaya karena persoalan yang sebenarnya kompleks dipersempit menjadi dua kubu : bersama atau melawan.

Padahal manusia tidak sesederhana itu.

Orang Bergerak dengan Kapasitas yang Berbeda

Teori Self-Determination Theory, atau teori determinasi diri—teori psikologi mengenai bagaimana motivasi manusia berkembang ketika kebutuhan psikologis dasarnya terpenuhi—memberikan penjelasan menarik.

Richard Ryan dan Edward Deci menjelaskan pentingnya tiga kebutuhan psikologis dasar : * autonomy atau perasaan mempunyai pilihan atas tindakan sendiri;

* competence atau perasaan mampu melakukan sesuatu;

* serta relatedness atau perasaan terhubung dengan orang lain.

Kondisi sosial dapat memperkuat ataupun justru melemahkan motivasi seseorang.

Prinsip tersebut sangat relevan bagi organisasi warga.

Ketika partisipasi tumbuh karena kesadaran, anggota dapat merasa bahwa perjuangan tersebut juga miliknya. Sebaliknya, apabila solidaritas mulai diukur berdasarkan kepatuhan terhadap tekanan kelompok, partisipasi dapat berubah dari kesadaran menjadi keterpaksaan.

Karena itu, sebuah komunitas yang sehat seharusnya mampu mengatakan :

“ Kami mempunyai tujuan bersama, tetapi setiap orang berhak menentukan kapasitas keterlibatannya.”

Tidak setiap anggota diwajibkan mengikuti setiap aksi; dukungan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Bahkan keputusan untuk bergabung dalam langkah seperti somasi resmi, ditempatkan sebagai keputusan berdasarkan kesiapan dan kesediaan anggota, bukan paksaan.

Bisakah Satu Pertanyaan Menjadi Bukti Suka Berdebat ? Satu tindakan tunggal hampir tidak pernah cukup untuk membuktikan pola perilaku seseorang. https://onoini.id/berita/rk85oo8smyvv7ga

Empati Bukan Berarti Selalu Setuju

Empati sering disalahartikan sebagai sikap lunak atau keharusan menyetujui orang lain.

Padahal secara psikologis, empati lebih dekat kepada kemampuan memahami pengalaman dan perspektif orang lain tanpa harus kehilangan pendirian sendiri.

Dalam komunitas warga, kemampuan ini menjadi penting karena setiap anggota membawa realitas hidup yang berbeda.

Ada orang yang mempunyai cukup waktu untuk menghadiri rapat. Ada yang bekerja hingga malam. Ada yang mempunyai pengetahuan hukum. Ada yang memiliki jaringan sosial. Ada yang berani tampil ke publik. Ada pula yang mempunyai alasan pribadi untuk menghindari konflik terbuka.

Karena itu, pertanyaan yang sehat bukan semata : “Mengapa dia tidak ikut?”

Melainkan : “Apa yang membuat dia belum dapat ikut, dan adakah bentuk kontribusi lain yang memungkinkan ?”

Perubahan kecil dalam cara bertanya tersebut dapat menghasilkan perbedaan besar dalam hubungan sosial.

Yang pertama cenderung menghakimi.

Yang kedua mencoba memahami.

Bahaya Ketika Komunitas Mulai Menghukum Perbedaan

Setiap gerakan sosial menghadapi paradoks.

Semakin kuat identitas kelompok, semakin besar solidaritas yang dapat terbentuk. Namun identitas kelompok yang terlalu kaku juga berpotensi menciptakan tekanan terhadap orang yang dianggap tidak cukup sejalan.

Pada titik tertentu dapat terbentuk group conformity, yaitu kecenderungan seseorang menyesuaikan perilaku atau pendapatnya dengan kelompok agar tetap diterima.

Dalam kadar tertentu, kesepakatan norma memang diperlukan. Tidak mungkin organisasi bergerak apabila setiap orang selalu berjalan sendiri.

Tetapi keseragaman juga mempunyai resiko apabila pertanyaan, kritik, keraguan, atau ketidaksiapan mulai dianggap sebagai pembangkangan.

Komunitas kemudian dapat terlihat kompak dari luar, tetapi sebenarnya rapuh dari dalam.

Karena itu, kekompakan yang sehat bukanlah keadaan ketika tidak ada orang berbeda pendapat.

Kekompakan yang sehat adalah ketika orang tetap merasa menjadi bagian komunitas meskipun pada suatu persoalan tertentu ia memilih berbeda.

Ketika Manusia Tidak Selalu Cocok : Membaca “Hukum Kesesuaian” dalam Tradisi Tiongkok, Barat, dan Timur Tengah https://onoini.id/berita/o0pgdkkrk2ul4x5

Komunikasi adalah Infrastruktur Sosial

Dalam organisasi formal terdapat struktur, prosedur, pembagian tugas, dan mekanisme pengambilan keputusan. Dalam komunitas yang belum mempunyai struktur kelembagaan kuat, komunikasi mengambil peran yang jauh lebih besar.

Komunitas bila belum berbadan hukum, maka gerakan dan pengambilan keputusan mempunyai keterbatasan tertentu. Dinamika wilayah dan karakter anggota juga mempengaruhi tingkat partisipasi.

Dalam kondisi demikian, komunikasi bukan sekadar bertukar pesan WhatsApp.

Komunikasi menjadi infrastruktur sosial.

Ia menentukan :

* apakah sebuah keputusan dipahami sebagai kesepakatan atau perintah;

* apakah ketidakhadiran dianggap keterbatasan atau pembangkangan;

* apakah kritik dianggap masukan atau serangan;

* apakah perbedaan berkembang menjadi dialog atau konflik.

Karena itu, informasi mengenai rencana, tujuan, risiko, dan konsekuensi sebuah tindakan perlu disampaikan secara terbuka.

Bahan komunitas tersebut secara eksplisit menekankan komunikasi yang terbuka dan jujur, penyampaian konteks keputusan kepada anggota, transparansi alasan ketidakikutsertaan, serta budaya saling mengingatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan.

Dari “Siapa yang Ikut ?”

Menjadi “Apa yang Bisa Kita Kerjakan Bersama ?”

Ada perubahan paradigma yang diperlukan dalam banyak komunitas warga.

Jangan terlalu cepat mengukur solidaritas berdasarkan kehadiran.

Ukur pula dari kontribusi.

Seseorang dapat membantu mengumpulkan dokumen. Yang lain melakukan kajian hukum. Ada yang menyediakan informasi. Ada yang berkomunikasi dengan instansi. Ada yang membantu biaya. Ada yang membangun jaringan media. Ada yang menjadi penengah ketika konflik internal terjadi.

Kontribusi sosial memang tidak selalu terlihat.

Dalam perspektif ini, organisasi yang matang bukan organisasi yang memaksa semua anggotanya berdiri di titik yang sama. Ia justru mampu mengorkestrasi kemampuan yang berbeda menuju kepentingan yang sama.

Seperti sebuah orkestra : alat musiknya berbeda, bunyinya berbeda, bahkan waktunya masuk pun berbeda. Yang membuatnya menjadi musik bukan kesamaan suara, tetapi kesamaan arah komposisi.

Ketika Perjuangan Eksternal Tidak Boleh Menghancurkan Internal

Ini menjadi persoalan penting bagi komunitas advokasi warga.

Sebuah komunitas mungkin sedang menghadapi persoalan besar di luar dirinya—pengelolaan hunian, pelayanan publik, transparansi, kebijakan pemerintah, atau ketidakadilan yang dirasakan warga.

Namun perjuangan eksternal dapat kehilangan kekuatannya apabila energi komunitas justru habis dalam pertengkaran internal.

Ironis apabila sebuah gerakan memperjuangkan hak masyarakat tetapi tidak memberikan ruang kepada anggotanya sendiri untuk menentukan pilihan.

Ironis pula apabila sebuah komunitas menuntut pemerintah mendengarkan suara warga, tetapi di dalam komunitas sendiri suara yang berbeda tidak didengarkan.

Karena itulah nilai yang diperjuangkan ke luar seharusnya juga dipraktikkan ke dalam.

* Jika menuntut transparansi, bangun transparansi internal.

* Jika menuntut partisipasi, berikan ruang partisipasi.

* Jika memperjuangkan hak, hormati pula hak anggota untuk memilih.

* Dan jika menuntut pemerintah mendengar masyarakat, komunitas pun harus belajar mendengar anggotanya.

Pragmatisme, Oportunisme, dan Krisis Kejujuran Sosial : Mengapa Banyak Orang Salah Memahami “Orang Realistis” ? https://onoini.id/berita/ki2p8ti9hvdt2t4

Solidaritas yang Dewasa

Pada akhirnya, komunitas bukan sekadar kumpulan orang yang mempunyai masalah yang sama.

Komunitas adalah ruang sosial tempat manusia belajar mempercayai satu sama lain.

Kepercayaan itu tidak tumbuh dari tuntutan agar semua orang selalu sepakat. Ia tumbuh ketika anggota mengetahui bahwa perbedaan tidak otomatis membuat dirinya disingkirkan.

Kebaikan publik dan kepentingan bersama sebagai tujuan utama, sementara solidaritas, empati, komunikasi, saling pengertian, dan peran penengah dipandang sebagai fondasi untuk mempertahankan kekompakan.

Dari perspektif psikologi dan sosial, gagasan itu dapat diringkas dalam satu prinsip sederhana :

komunitas yang kuat bukan komunitas tanpa perbedaan, melainkan komunitas yang memiliki kemampuan mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa kebersamaan.

Sebab solidaritas yang dibangun melalui tekanan mungkin terlihat kuat untuk sesaat.

Tetapi solidaritas yang dibangun melalui kepercayaan, empati, komunikasi, kebebasan berpartisipasi, dan tujuan bersama jauh lebih mungkin bertahan ketika perjuangan menjadi panjang dan keadaan menjadi sulit.

Sumber literasi :

tulisan ini dikembangkan dari dokumen “Pentingnya Empati, Komunikasi, dan Adaptasi dalam Komunitas” yang dilampirkan sebagai bahan utama; serta diperkaya dengan literatur psikologi dan sosial, terutama David W. McMillan & David M. Chavis (1986), “Sense of Community: A Definition and Theory,” Journal of Community Psychology, Vol. 14(1), hlm. 6–23, yang mengembangkan kerangka mengenai rasa memiliki dan dinamika psikologis komunitas ; David M. Chavis, James H. Hogge, David W. McMillan & Abraham Wandersman (1986), “Sense of Community Through Brunswik's Lens: A First Look,” Journal of Community Psychology, Vol. 14(1), hlm. 24–40 ; serta Richard M. Ryan & Edward L. Deci (2000), “Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-Being,” American Psychologist, Vol. 55(1), hlm. 68–78, mengenai hubungan lingkungan sosial, otonomi, motivasi, keterhubungan, dan perkembangan psikologis.

*** Tulisan ini bertujuan edukasi warga negara dan perbaikan pemerintahan, bila ada koreksi, sanggahan, klarifikasi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.

https://inewsfakta.com/perjuangan-pasti-suatu-saat-akan-membuahkan-hasil-kalau-anda-diam-berarti-anda-menerima-kondisi-kezaliman/

K o n t a k

E m a i l :

support@onoono.asia